Jumat, 25 Februari 2011

Hindarkan Bentrok, Polisi Pisah Demo PSSI

Kepolisian akhirnya memutuskan melarang para pengunjuk rasa, baik yang pro maupun kontra Nurdin Halid, untuk menggelar aksi mereka di depan kantor Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat, 25 Maret 2011.

"Di kantor PSSI tidak boleh ada aksi dan harus di strerilkan. Maka dari itu, baik massa yang pro dan kontra harus dipecah. Bagian pro sebelah barat dan kontra sebelah timur," kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol. Hamidin.

Langkah ini diambil, kata Hamidin, untuk menghindari bentrok antar dua kelompok pendemo. Sebab, baik massa yang pro dan kontra datang bersamaan ke Stadion Gelora Bung Karno. "Ini untuk menghindari konfrontasi massa baik yang pro dan kontra. Kami telah belajar dari peristiwa keributan kemarin," kata Kapolres. Sehari sebelumnya, Kamis, 24 Februari 2011, terjadi keributan di sekitar Pintu I Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Ratusan massa pro dan kontra Nurdin terlibat bentrok. Keributan berawal saat massa pengunjuk rasa yang menentang pencalonan Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015, bergerak menuju kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang jaraknya tidak jauh dari stadion.

Saat melintas di kawasan Pintu I Senayan, massa anti Nurdin ini bertemu dengan kelompok pendukung Nurdin. Mereka saling ejek dan keributan tidak dapat dihindari lagi. Kedua kelompok saling lempar batu dan bambu.

Jumat siang ini, 25 Februari 2011, ratusan massa penentang Nurdin Halid melurug kantor PSSI. Demonstran yang tergabung dalam kelompok Bogor Raya Mania, Pasopati Solo, Basoka, dan Paguyuban Suporter Jawa Tengah tiba sekitar pukul 14.45 WIB. Mereka langsung merangsek ke depan kantor PSSI. Namun, polisi yang sudah bersiaga sejak tadi pagi menghalau massa untuk menghindari bentrokan  dengan kelompok pendukung Nurdin.

Para pengunjuk rasa yang mayoritas para remaja, menggelar aksi untuk menolak pencalonan Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015. Mereka menyatakan selama kepemimpinan Nurdin, sepakbola nasional terus terpuruk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar